Riset dalam Profesi Kehumasan
Kegiatan riset meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, penyajian data yang dilakukan untuk memecahkan suatu masalah. Riset sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang salah satunya yakni bidang perhumasan/ public realation. Keberhasilan humas dalam membentuk dan mempertahankan citra organisasi merupakan keberhasilan dari sederet rangkaian proses yang panjang, rangkaian ini berawal dari adanya temuan fakta yang diperoleh melalui kekuatan riset. Dengan demikian dapat dikatakan, riset bagi perusahaan adalah bagian yang sangat penting untuk mendukung kegiatan. Riset dapat dimanfaatkan untuk mengetahui profil khalayak perusahaan, penentuan kebijakan, program kerja, evaluasi atas berbagai kegiatan, penentuan strategi untuk menghadapi persaingan bisnis, solusi atas krisis perusahaan. Kemudian adanya titik awal dan akhir dalam riset yaitu: pertama, yaitu pencarian fakta. Fakta yang dimaksud adalah mendefinisikan problem, Kedua, planning programming. Ketiga, taking action and communicating. Keempat, evaluating.
Dalam riset di profesi kehumasan ada beberapa model riset antara lain:
1. PII Model (Preparation, Implementation and Impact Model) Nama model ini diambil dari tiga tingkatan dalam melaksanakan riset, yaitu preparation, implementation and impact.
2. Pyramid model (model Piramida) merupakan hasil revisi dari model makro mengenai evaluasi program PR, yang pelaksanaannya dilakukan secara bottom-up.
3. PR Effectiveness Yardstick Model. Jika dikaitkan dengan proses pencitraan, maka evaluasi pada tahap ketiga ini sudah tidak lagi mengukur dampak pesan pada tataran kognitif atau sekedar kesan terhadap citra, melainkan tampak pada perubahan perilaku target audiens.
4. Unified Evaluation Model. Setelah. model baru yang mengkombinasikan hal-hal yang terbaik dari masing-masing model tersebut dengan menciptakan model yang bagus. Bahwa ada empat tahap di dalam komunikasi. Noble dan Watson menamakan empat tahapan tersebut dengan sebutan input, ouput, impact dan effect.
Komentar
Posting Komentar